Pages

Core Value & Karakter Moral Ibu Profesional

Lebih dari setahun lalu saat bergabung menjadi mahasiswi Ibu Profesional di kelas matrikulasi, saya merasa memiliki values yang sama di Institut Kehidupan ini. Terdapat 5B core values yang selalu saya ingat betul dan menjadi catatan besar di buku kehidupan saya.

  1. semangat BELAJAR
  2. terus BERKEMBANG
  3. aktif BERKARYA
  4. selalu BERBAGI
  5. selalu BERDAMPAK

Seorang perempuan, baik itu sebagai individu, atau peran lainnya dalam keluarga, sebagai anak, sebagai istri, bahkan sebagai seorang ibu, harus memiliki semangat belajar yang tinggi. Karena sesungguhnya hidup ini penuh tantangan, dan kita dituntut untuk mencari jalan yang baik dengan terus belajar dari berbagai sumber. Tentu saja nilai utama ini seperti yang dibahas di awal matrikulasi harus disertai dengan adab belajar yang baik, agar ilmu tersebut berkah dan bermanfaat, kemudian membuat kita terus berkembang menjadi pribadi yang lebih baik setiap harinya. 

Banyak stigma bahwa ketika menikah, terlebih setelah menjadi ibu, perempuan seakan terkurung dalam tempurung. Padahal, ketika menikah seharusnya bisa meningkatkan potensi diri, tetap aktif berkarya, kemudian selalu berbagi dan selalu berdampak untuk sekitar.

Menjadi Ibu Pembelajar perlu memiliki alasan kuat (strong why). Ketika semangat sedang turun, maka kita memiliki alasan kuat untuk kembali berjalan menuju tujuan yang kita ingin capai. Inilah alasan saya akhirnya mengikuti perkuliahan Bunda Sayang di Institut Ibu Profesional. 

Apa yang ingin saya cari?

Seperti yang telah saya tuliskan tentang makna ibu pofesional disini, saya ingin menjadi guru dan sahabat bagi anak-anak saya, juga tentu saja menjadi partner yang baik bagi suami saya sebagai guru dan sahabat untuk anak-anak kami. Lebih jauh dalam membangun biduk rumah tangga, saya ingin bisa menjadi manajer keluarga yang handal.

Di peta pembelajaran yang telah saya buat sebelumnya, ada beberapa hal yang ingin saya tingkatkan, yaitu komunikasi produktif, cerdas finansial, mengamati gaya belajar anak, hingga membuat family project.

Prinsip dan Komitmen Berkomunitas (CoC IIP)


Arti komunitas di dalam KBBI adalah (n) kelompok organisme (orang dan sebagainya) yang hidup dan saling berinteraksi di dalam daerah tertentu; masyarakat; paguyuban.

ilustrasi komunitas, by @rizaziah
Manusia sebagai makhluk sosial, yang pasti berinteraksi dengan sesamanya. Iya donk, secara langsung atau tidak, kita pasti membutuhkan orang lain dalam keseharian kita, bahkan dalam mencapai suatu tujuan yang kita inginkan. Misalnya saja ingin menjadi seorang dokter, kita pasti harus sekolah dulu, kita butuh guru/dosen, juga teman sejawat untuk berdiskusi, serta pastinya seorang dokter akan 'berguna' jika ia memiliki pasien.

Interaksi sangat erat kaitannya dalam hubungan antar individu. Tiap individu unik, memiliki latar belakang, pola pikir, serta berbagai karakter yang unik. Maka, dibutuhkan suatu hal yang bisa mengatur hubungan antar individu ini. Apalagi dalam komunitas yang besar, dengan anggota yang heterogen, tiap kepala dengan latar belakang serta pola pikir berbeda, perbedaan pendapat atau bahkan gesekan bisa dipastikan dapat terjadi, bahkan tantangan demi tantangan tak mungkin terelakkan.

Seperti diilustrasikan pada gambar, komunitas itu terdiri dari tiap individu dengan berbagai 'warna'-nya, dan dikumpulkan dalam 'satu lingkaran'. Yang pasti, komunitas itu biasanya memiliki VISI dan MISI yang menyatukan anggotanya. Sehingga diperlukanlah peraturan, tata tertib, yang dipahami dan disepakati bersama sehingga menjadi sebuah komitmen.

Demikian pula dengan Institut Ibu Profesional (IIP) sebagai sebuah komunitas belajar para Ibu dan calon Ibu yang di dalamnya terdapat beragam latar belakang, profesi, serta aneka heterogenitas. Maka lahirlah Code of Conduct, yang biasa disingkat CoC, sebagai pedoman berperilaku bermartabat seorang Ibu. CoC ini pun memiliki tujuan sebagai (1) Pedoman (tujuan normatif), yakni sebagai 'kompas' dalam bersikap dan berperilaku di komunitas; (2) Preventif, untuk mencegah terjadinya pelanggaran-pelanggaran oleh anggotanya; dan (3) tujuan Kuratif, sebagai tujuan untuk menyelesaikan tantangan yang muncul akibat adanya gesekan antar individu maupun benturan berbagai kepentingan di dalam IIP.

Ada 5 hal garis besar yang diatur dalam berkomunitas di IIP, semua hal dibolehkan, kecuali:
1.  Kritik Pemerintah
2. Ghibah & Fitnah
3. Berbicara SARAT (Suku, Agama, Ras, Anggota Tubuh)
4. Bicara khilafiah
5.  Konflik Kepentingan

Tentu saja hal batasan ini dibuat agar para anggota tetap nyaman dalam berkomunitas.


Terkait prinsip berkomunitas ini saya ingat sekali saat beberapa waktu lalu diwawancara untuk sebuah yayasan yang bergerak di bidang edukasi. Karena kebetulan saya aktif mengedukasi tentang menggendong bayi yang aman dan nyaman, dan saya juga senang sharing pengalaman, maka saya diberi kesempatan untuk bergabung. Dalam sesi wawancara pengurus tersebut, salah satunya ditanyakan, "bagaimana sikap saya dalam menghadapi adanya peng-kotak-kotak-an di komunitas menggendong?"

Jawaban saya sederhana, bahwa dalam mengedukasi kita harus berpikiran terbuka dan merangkul setiap individu ataupun kelompok. 

Di komunitas menggendong, sering sekali terjadi khilafiah. Ada yang pro dengan NBC (Narrow Based Carrier; gendongan berpanel sempit), 'kaum' ini menganggap bahwa NBC yang biasanya sangat mudah ditemukan di pasaran dan dijadikan kado bagi orang yang baru saja lahiran masih bisa ditolerir dengan syarat A, B, C, dst. Tapi ada pula yang saklek meng-haram-kan penggunaan NBC karena alasan 1, 2, 3, dst...
Bagi saya yang seorang Babywearing Consultant, maka sudah seharusnya meluruskan apa yang saya ketahui, dan hanya sebatas menghimbau, karena keputusan akhir ada di tangan penggendong, khususnya orang tua.


Saya ingat senior saya dulu pernah ada yang bilang begini,
Lo asik, Gue santai...
Lo usik, Gue bantai!!!

Dalam hal prinsip, terutama yang berkaitan dengan value diri atau keluarga, kita wajib 'keras kepala' mempertahankan prinsip tersebut. Apalagi berkaitan dengan Tauhid.
Namun, dalam berkomunitas, adanya komitmen ini harus membuat kita lebih fleksibel, gak perlu ngotot, tapi tetap saling menghormati, merangkul, menggandeng, mengapresiasi, banyak memberikan peran, sehingga kita bisa lebih berpikiran terbuka dan menerima adanya perbedaan.

#ibuprofesional
#kelasPRAbunsay
#WahanaSurfing

oleh : Mar'atul Azizah (@rizazizah) - mahasiswi kelas Bunda Sayang batch #6 regional Bekasi

Makna Ibu Profesional

33 bulan yang lalu ketika saya melahirkan seorang anak, ternyata saya pun terlahir kembali menjadi sosok baru. Menjadi seorang Ibu, mengajarkan banyak hal, perjalanan yang pastinya sangat panjang, penuh liku dan aral. Namun, seperti halnya sebuah petualangan, hal terpenting adalah menjadikan setiap momen berarti, dan menjalaninya dengan bahagia.

Saat ini, saya kembali menjadi mahasiswi di kelas Bunda Sayang, Institut Ibu Profesional, berpetualang bersama 750 Ibu dan calon Ibu di Pulau Cahaya. Setahun kedepan akan menjadi petualangan luar biasa, membersamai tumbuh kembang anak, dan juga memupuk cinta di keluarga kami.

Sudah lama rasanya euforia ini tidak saya rasakan. Ada rasa cemas, terlebih kondisi saya yang saat ini sedang menjalani LDR dengan suami karena harus merawat Ibu sepeninggal Bapak saya. Tantangan yang luar biasa juga saya rasakan ketika harus membagi waktu untuk membersamai Arrayyan, buah hati saya yang senang bermain.

Sejatinya, anak-anak suka BERMAIN.
Tetapi MENDIDIK mereka TIDAK BISA MAIN-MAIN...


Maka, disinilah saya sekarang, untuk terus belajar....
Makna Ibu Profesional

Ibu Profesional bagi saya adalah sosok idaman bagi seorang perempuan. "Kebanggaan Keluarga" menjadi label yang sangat erat kaitannya. Dialah sosok yang disayang keluarga (khususnya suami dan anak), cekatan dalam segala aktivitas yang dilakoninya, produktif berkarya untuk seluas-luasnya manfaat yang dapat dibagikan, dan tentu saja menjadi sebaik-baiknya perhiasan dunia: wanita shalihah.

Setelah ngobrol ngalur ngidul, pas banget 4 hari ini suami lagi pulang, jadi punya banyak waktu untuk membahas nyaris tuntas tentang makna ibu profesional versi terbaik saya, dan harapan besar suami.

Pengejawantahan "IBU PROFESIONAL" versi terbaik saya adalah seorang wanita, dengan segala potensi yang dimiliki berkomitmen dan konsisten menjadi "MANAGER KELUARGA HANDAL".

peta petualangan
Di ilmu manajemen, terdapat 4 konsentrasi, yaitu Manajemen Operasional, Manajemen Keuangan, Manajemen Manusia (Human Resource), dan Manajemen Pemasaran.
Petualangan keluarga kami sangat masih panjang. Terutama perjalanan saya menjadi manager keluarga handal. Melalui proses pembelajaran berkelanjutan, di kelas Bunda Sayang, tiap langkah harus diperhatikan secara detil. Duri di pasir pantai itu biasa, bisa saja kita terluka jika tidak berhati-hati, tapi itulah yang akan menjadi cerita.

Langkah pertama yang harus saya lakukan adalah melakukan komunikasi produktif, sebagai langkah perencanaan manajemen operasional.

Selanjutnya, saya juga harus mempelajari secara sungguh-sungguh tentang family financial planning, sebagai bagian dari cerdas finansial menuju kebebasan finansial keluarga tahun 2040 insyaa Allah. Hal ini tentu saja merupakan kehandalan yang harus dimiliki seorang manajer keuangan keluarga.

Terkait human resources, saya pun harus memahami gaya belajar anak. Saya meyakini tiap anak itu unik dan hebat, setiap anak memiliki kecerdasan yang bisa dioptimalkan dengan baik, kitalah orang tua yang harus terus belajar dan memahaminya.

Manajemen pemasaran bagi keluarga saya pahami sebagai perencanaan menuju keluarga yang dapat diingat oleh orang lain. Bukankah manusia mati hanya meninggalkan nama? Nama seperti apa itulah yang harus kita buat 'branding'-nya. Bapak saya (rahimahullah) pernah berpesan, "Jangan pernah merasa baik, tapi teruslah berbuat baik!"
Maka, disinilah peran family project yang akan turut mensukseskan petualangan kami menjadi 'super team' dalam memaknai setiap proses di kehidupan ini.

#ibuprofesional
#kelasPRAbunsay
#istanapasir

oleh : Mar'atul Azizah (@rizazizah) - mahasiswi kelas Bunda Sayang batch #6 regional Bekasi

IUFD : cerita lahiran setahun lalu

Janin itu meninggal di dalam rahim..



Tepat 1 tahun yang lalu, 22 April 2019, saya melahirkan per-vaginam dengan bantuan induksi untuk ke-2-kalinya. Saat itu usia kandungan saya sekitar 20 weeks.

Kali ini rasanya luar biasa..
Lebih sakit dari proses lahiran anak saya yang pertama, bahkan disentuh sedikit pun merangsang rasa sakit sekujur tubuh.
Subhanallaah...

Sebelumnya, Jum'at, 19 April 2019, saya memeriksakan kondisi kehamilan ke-2 saya. Saya pikir, sudah saatnya kontrol karena vitamin sudah habis dan hampir 2 bulan tidak kontrol karena kondisi saya sedang berada di kampung halaman. Jujur, memang saya kurang nyaman dengan fasilitas dan layanan kesehatan di Situbondo.

Cukup lama saya memutuskan untuk kontrol lagi, searching dan tanya sana-sini tentang rekomendasi Sp.OG di kota santri kelahiran saya, akhirnya firasat saya mengatakan harus segera kontrol!

Sekitar jam 5 sore..
Dan pasrahlah saya sama dokter di jadwal praktik hari Jum'at itu. Saya ingat betul, saya mendapat nomor antrian ke-10.
Hari itu, dokter bolak-balik ke ruang operasi. Operasi darurat katanya, ada sekitar 5x.

Sekitar 22.00 WIB,
Nomor antrian 9 baru saja keluar, tapi dokter harus kembali ke ruang operasi.
Saya kebelet pipis, dan saat di toilet, saya melihat ada flek darah!
Jantung saya berdetak lebih cepat, tak menentu, entah perasaan apa, tangan saya seketika mendingin.

Sekitar setengah jam berlalu, nama saya dipanggil masuk ruangan konsultasi dengan dokter. Saya langsung diminta berbaring, cek USG...
"Ibu, ini itu aliran darah", dokter menjelaskan tanda warna yang ada di luar rahim.

"Ini kepala, tangan, udah berbentuk ya, Bu", lanjut dokter.

"Masyaa Allaah, alhamdulillaah", dzikir saya tiada henti menyebut kebesaran-Nya.

Alat USG bergerak mencari detak jantung, "tapi, kosong, Bu!"

"Maksudnya, dok?", tanya saya memperjelas.

"Ibu terakhir kontrol kapan?"

"Sudah hampir 2 bulan yang lalu, dok"

"Iya, bu, biasanya usia segini itu sudah ada detak jantungnya ya"

DEG! Rasanya waktu membeku..

Saya simak setiap penjelasan dokter, bahwa jika melihat bentukannya masih bagus, kejadiannya bisa aja baru banget. Dan karena itulah saya tidak percaya atas pernyataan dokter yang menyebutkan bayi saya meninggal!
Saya butuh second opinion.
Dan lagi, sepanjang malam saya tidak nyenyak, hanya browsing tentang rekomendasi dokter terbaik di wilayah tapal kuda.
Saya ingin yang terbaik! Walau harus ke Jember, atau Probolinggo, akan saya tempuh!

Sabtu, 20 April 2019, saya mengunjungi seorang kawan yang berprofesi sebagai bidan. Dan dia memeriksa perut saya dengan doppler. Statement-nya sama, tidak mendengar detak jantung bayi. Dia menyebutkan beberapa nama dokter Obgyn yang menurutnya cukup mumpuni memberikan konsultasi, tapi sayangnya dokter-dokter tersebut lelaki semua 😌

Ijin suami, ridho suami, saya pun pergi ke salah satu dokter terdekat yang disebutkan. Praktiknya di daerah Bondowoso, yang ternyata tante saya pun punya riwayat konsultasi yang cukup baik dengan beliau. Suami tidak ikut mengantar, saya hanya ber-3 dengan Arra (anak pertama saya) dan driver keluarga Pak Dhe.
Kebetulan, suami baru masuk beberapa hari sebagai CPNS, jadi dirasa tidak elok jika harus ijin sehari penuh untuk mengantar saya ke Bondowoso.

Jam 8 pagi saya sudah tiba di klinik praktik dokter yang disebutkan, dr. Gede namanya.Tak butuh waktu lama di ruang periksa, langsung USG dan dokter memang sudah memastikan bahwa kondisi janin sudah tidak baik, ada semacam patahan di lehernya dan menyarankan untuk segera dilahirkan tapi di RS terdekat dengan rumah agar memudahkan. Subhanallaah...
Cepat sekali perubahannya..
Padahal 2 hari sebelumnya saya bed rest dan tidak banyak bergerak.

Akhirnya, saya langsung ke RS dekat kantor suami.
Jam 12 siang, saya masuk. Suami ikut dan ijin terlambat kembali ke kantor karena mengurus administrasi. Sekitar jam 2 siang, saya sudah berbaring dan diinfus di ruang bersalin. Saya diharuskan minum obat induksi di waktu yang sudah ditentukan.

Sekitar ba'da ashar, perut sudah terasa mulas..
Ba'da maghrib, rasanya melilit hebat. Suami belum juga kembali membawa baju ganti dan perlengkapan pasca melahirkan darurat ini. Saya cuma bisa uring-uringan seorang diri. Ada 2 orang kawan yang datang mengunjungi, tapi rasanya saya sudah tidak fokus karena sakit yang super hebat.

21.05 WIB, pecah ketuban, suaranya kencang kayak balon meletus!
21.30 WIB, ada yang dirasa keluar...
Saya minta suami cek, dan.. "iya, kayaknya itu janinnya", katanya..

Rasa mulas berangsur hilang, tapi sakit dan perjuangan saya belum berakhir.
Lagi, plasenta gak mau keluar! Jadi harus "dipaksa"!

Yaa Allaah..
Mengingat kejadian itu rasanya super sakit, saya mengutuki diri sendiri bahwa saya gak mau lahiran lagi di kampung! Walau itu di RS!
Saya dibantu 4 bidan saat mengeluarkan plasenta, tapi hanya 1 bidan yang dengan sabar dan berhasil..

Entah berapa lama itu terjadi, tapi sakitnya terasa sangat lama!
Kaki saya sampai bergetar hebat!

Allah Maha Tahu!

Sedih sudah pasti, tapi selalu ada hikmah di balik setiap kejadian..

Allah sayang saya, Allah sayang keluarga saya.
Allah tahu saya gak akan sanggup membesarkan bayi saat harus berjauhan dengan suami dan menemani pengobatan Ibu saat ini.

Pagi hari sebelum proses induksi itu, saya SMS Bapak Rahimahullaah..
Meminta maaf, tak disangka balasan Bapak membuat nyeri hati saya..

"Kalo Mbak Isa terlalu repot dengan Ara saat nanti adiknya lahir... Ara biar bapak dan ibu saja yg momong... Itupun kalo boleh sama Mbak Isa dan suaminya..."
Saya hanya bisa membalas dan menyampaikan bahwa I'm okay.
"Adiknya harus dilahirkan segera, pak.. :-) insyaa Allah riza sama Ara gapapa. Mohon doanya saja. Jangan bilang siapa2."

Maafkan Riza, Pak..
Banyak hutang belum tertunaikan..

Tabik,
@rizazizah Book Advisor 📚

***Tulisan, sebagai pengingat
Mengingat kembali IUFD (Intrauterine Fetal Death)

Manusia hidup dari satu ujian ke ujian lainnya


"Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya."
Q.S. Al-Baqarah : 286
Update tulisan terakhir di blog ini 2 tahun lalu tentang cerita adik saya, qadarullaah dia gagal masuk di PTN dan harus gap year mengikuti Ujian di tahun selanjutnya. Alhamdulillaah, tahun lalu berhasil dan sekarang mau jadi calon dokter (hewan), mohon doanya ya, kawan 😊

Duh, pengen deh aktif berbagi di blog. Tapi ISTIqomah itu emang super duper extra effort daripada sekedari ISTIrahat yaa 🤣

Ikhtiar maksimal, Hasil optimal

Kata maksimal itu ternyata ga ada batasnya, sodara-sodara!
Kalau kita ngeluh, capek, lelah, kita masih bisa berusaha lagi, mencoba lagi...
Sama kayak ujian masuk PTN, ada 3x kesempatan, bahkan ada banyak jalur untuk mencoba. Kalau sekali aja udah nyerah, yaa kelihatan kualitas diri kita..
Dan ini berlaku ke segala hal! 

Hari ini, Ibu saya sedang menjalani proses pengobatan lagi.
Buat yang aktif membaca blog saya, duileee kayak yang sering aja aku tuh update blog 🙈, pasti tau ya Ibu saya punya riwayat Tumor Nasofaring skala ganas!

Pertama kali terdeteksi di tahun 2010, sempat menjalani operasi berulang tiap tahun, hingga akhirnya di tahun 2013-2014 menjalani kemoterapi dan kemoradiasi (kemoterapi+radiasi sekaligus). Finansial kami diuji, kekuatan Ibu pun demikian. Bapak (rahimahullaah) membesarkan hati saya dan adik saya jika terjadi hal terburuk pada Ibu. Setelah ikhtiar maksimal, entah berapa besar biaya yang sudah dikeluarkan, hingga ujung tombak krisis keuangan, kamì pasrah, Ibu pun menghentikan pengobatan medis dan beralih ke pengobatan herbal. Ibu meyakini efek obat herbal itu lambat tapi tidak akan merusak seperti halnya kemoradiasi yang Ibu rasakan luar biasa mengubah fisik dan kekuatan Ibu.

Alhamdulillaah..
Kondisi Ibu berangsur membaik...
Walau tidak bisa dipastikan apakah tumor itu sudah benar-benar hilang dari tubuh Ibu atau tidak.

5 tahun berlalu, tepatnya bulan Agustus 2018, Ibu jatuh dari tangga di rumah!
Kepanikan luar biasa terjadi, ketakutan teramat saya rasakan..
Hanya berdua adik di rumah, juga ditemani si kecil yang tak mengerti dan tak bisa berbuat banyak, saya bingung...
Alhamdulillaah para tetangga baik hati membantu kami, mengangkat Ibu yang mulai kehilangan banyak darah, kemudian menggotong dan membawa Ibu ke IGD terdekat. Namun, fasilitas tak memungkinkan sehingga harus merujuk Ibu ke faskes yang lebih baik.

Ah iya, saya belum bercerita banyak, saya sudah menikah dan saat ini dikarunia seorang putri cantik, lain waktu akan saya ceritakan lebih banyak, atau bisa mampir kesini 😁

Saat kejadian itu suami saya sedang di luar kota, Bapak saya juga sedang pulang kampung, touring. Sudah kebayang donk kondisi yang saya hadapi?

Singkat cerita, setelah pemeriksaan ini itu, kami semua dikejutkan dengan berita bahwa tumor Ibu sudah mengalami metastasis ke Paru. Rabbana!

"Ibu gapapa kok, gapapa!", begitu besar kekuatan dan semangat hidup yang Ibu miliki. Entah seberapa cantik hati Ibu, calon bidadari syurga insyaa Allaah...
Ketika saya hancur, tidak dengan Ibu yang bisa menyembunyikan rasa sakit di dalam tubuhnya..

Setelah kejadian itu, fisik Ibu tidak seperti biasa. Ibu harus fisioterapi, tapi karena jarak rumah dan kondisi keuangan kami (pengobatan kemoradiasi terdahulu masih menyisakan tanggungan hutang ke kantor Bapak yang menjamin asuransi), Ibu hanya menjalani pengobatan alternatif patah tulang. Hampir 2 bulan lamanya Ibu hanya bisa rebahan di kasur, dan kalau kemana-mana hanya dibopong Bapak.
Ya, begitu sayangnya Bapak sama Ibu!
Yaa Rabb, hitung ini sebagai amalan untuk menerangi kubur bapak dan kunci menuju surga-Mu..

Ibu yang sakit, Bapak mendahului berpulang..
28 Agustus 2019..
Agustus beberapa tahun terakhir selalu ada ujian bagi keluarga kami..

Selanjutnya, Ibu mulai bisa berjalan, tapi kepalanya masih tidak bisa menoleh dengan sempurna, masih kayak 'robot' saat berjalan.

"Alhamdulillaah masih diberi kesempatan bernafas, jalan ke kamar mandi sendiri, bahkan ini bisa berjemur, Ibu gapapa!", begitu selalu yang Ibu ucapkan...

Akhir 2018, Ibu merasakan hidungnya mulai tidak nyaman.
"Ibu periksa aja deh! Eman BPJS-nya ga dipake!", perintahku dan akhirnya di-iya-kan

Waktu terus berjalan, terasa sangat lambat pasti bagi Ibu yang menjalani berbagai pemeriksaan ini itu, kemudian menjalani operasi pengangkatan tumor kembali (untuk ke-4-kalinya) di bulan Februari 2019.
Dokter sudah menyarankan agar Ibu kembali menjalani kemo/radiasi.
Tapi saya menolak dengan keras!

"Ibu tuh udah kurus begini, Isa takut Ibu gak akan kuat! Mau jadi apa nanti kalau kemo lagi? Udah lah herbal aja, beli lagi obat yang dulu dari Oom Jo itu kan kata Ibu enakan?", entah kepanikan macam apa yang tersirat dari kata-kata saya. Saya gak sanggup membayangkan apa yang akan terjadi pada Ibu saat menjalani kemoterapi kembali.

Hingga akhirnya...
Hari ini, saya menuliskan ini di kamar kosan, menunggui Ibu saya..

Tepatnya 16 Maret 2020, 2 hari sebelum jadwal operasi (ke-5), Ibu diharuskan rujuk ke RSCM, di masa pandemi, kebayang betapa kosongnya pikiran saya? Entah emosi apa yang ada kala itu, marah, sedih, bingung, segalanya..
Padahal Ibu sudah kembali mimisan, banyak keluhan yang dirasakan, hanya menanti 2 hari lagi untuk menjalani operasi yang sudah dijadwalkan lebih dari sebulan sebelumnya dan berharap deritanya sedikit terobati.
Belum lagi pikiran bagaimana dengan anak saya ketika saya harus menemani Ibu kemoradiasi (yang sudah dipastikan gak akan bisa pulang-pergi ke rumah karena kondisi jarak dan fisik Ibu tentunya), betapa frustasinya saya yang juga sedang menjalani LDR, adik saya sedang berkuliah jauh di pulau seberang, kami perantau, jauh dari keluarga...

oh Tuhan.. 
ujian apa ini namanya?

*************
Tabik,
@rizazizah Book Advisor 📚

Celoteh Riza @ kamar kosan di Hari Ibu, karena kartini sesungguhnya adalah Ibu yang menampakkan kekuatan sejatinya menjalani segala ujian ❤