Pages

Komunikasi Produktif day#3 : Choose the Right Time

Weekend pun tiba, hati gembira, saatnya bersuka cita, bersamaaa ~~~ #ceritanyasambildilagukan 🎧😁

Sebelum 1.5 tahun ini, weekend adalah waktu yang begitu menggembirakan bagi saya, karena itu berarti bisa 24 jam bersama suami. Tapi ternyata, ujian LDR ini meningkat ke level yang... ah... sudahlah jangan dibahas ya biar ga bikin baper berjama'ah ☠

 

Kelanjutan komunikasi produktif bersama pasangan yang saya terapkan hari ini adalah tentang pemilihan waktu berkomunikasi. Ini memang sudah saya rencanakan sedari hari pertama. Karena biasanya weekend lebih santai dan tenang, suasana hati biasanya pun akan lebih riang.

CHOOSE THE RIGHT TIME!

Bukan saja tentang waktu secara ekspilisit, tetapi juga tentang memilih waktu dengan melihat kondisi, good mood, perut kenyang misalnya, tentu akan mempengaruhi komunikasi.

Benar saja!
Saat di hari pertama yang lalu saya ceritakan tentang rencana saya kembali berkarya di ranah publik kepada suami dan saya khawatir akan terjadi perseteruan, maka keputusan tepat adalah dengan menunda pembicaraan tersebut. Bukan menyudahi begitu saja. Karena bagaimanapun, prinsipnya adalah SELESAIKAN MASALAH SAMPAI TUNTAS, Masalah apapun itu, sekecil apapun itu, jika masih mengambang atau menjadi ganjalan di salah satu pihak, harus dikomunikasikan dengan baik.

3.5 tahun menikah bukan berarti kami sudah benar-benar saling mengenal, karena ternyata masih sulit bagi saya membuat partner hidup saya ini berbicara dengan jelas tanpa membuat saya menunggu amat sangat lama dan menduga-duga apa yang sedang dalam benaknya...

Maka, memperluas ruang logika rasionalitas dan mempersempit celah perasaan walau sekedar menduga-duga adalah PR besar bagi saya.

Hari Sabtu ini mood saya dan suami sedang baik, komunikasi pun terjalin dengan sangat baik tentang tantangan, peluang, maupun plus minus berbagai hal yang terjadi jika saya kembali berkarya di ranah publik. 5 bintang di hari ini semoga membuat saya bisa terus konsisten ♥♥♥♥♥

Tabik,
Mar'atul Azizah (riza) - Mahasiswi kelas Bunda Sayang IIP Regional Bekasi

#harike3
#tantangan15hari
#gameZona1
#BundaSayang
#KomunikasiProduktif
#PantaiBentangPetualang
#institutIBUprofesional
#PetualangBahagia

Komunikasi Produktif: Clear and Clarify day#2

PR kemaren tentang kelanjutan komunikasi produktif bersama pasangan masih belum dilaksanakan.Tantangan hari ke-2 yang saya temukan ternyata adalah komunikasi dengan saudara.
Kaidah "CLEAR and CLARIFY" ternyata tidak hanya berlaku untuk pasangan, tetapi juga berlaku umum.

Saat di RS dengan jelas saya meminta tolong adik saya untuk mengambil menu catering Nasi Tim Saring (NTS) di Unit Produksi Makanan (UPM) seperti biasanya. Yang berbeda adalah menunya, biasanya Ibu saya mengkonsumsi menu cair (blenderized) melalui NGT, namun kali ini dicoba naik tekstur untuk mengunyah langsung secara oral untuk latihannya.

Sesampainya di UPM, adik saya mengirim pesan untuk mengkonfirmasi jenis makanannya. Saya pun sampaikan, "NTS atas nama Ibu Sri".

Selang beberapa waktu, mbak Adiska menanyakan apakah sudah diambil NTS-nya. "Adik saya sudah ke UPM sedari tadi, mbak. Ini saya ada di dalam poli Endoskopi THT"

Setelah selesai di poli, ternyata adik saya menyerahkan makanan di plastik. Tak lama, mbak Adiska mengirim foto gambar NTS yang sudah disiapkan petugas dalam bentuk cup dan dituliskan nama lengkap Ibu. Tepok jidat deh!

Pelajaran berharga untuk lagi-lagi menerapkan prinsip CLEAR, CLARIFY, and CLARIFY. Yup, saya rasa kita perlu mengklarifikasi 2x lawan bicara kita untuk benar-benar memahami apa yang kita sampaikan.
✰✰ 2 bintang untuk hari ini semoga tidak menyurutkan semangat saya untuk terus belajar ^^

Namun, ada kaidah lain yang saya pelajari.
Saat itu saya beranggapan bahwa saya sudah memberikan informasi dengan jelas, namun ternyata hasilnya tidak sesuai. Maka, bukan salah si penerima pesan pastinya. Saya perhatikan kembali, nampaknya kondisi hati dan pikirannya sedang tidak berada satu dimensi dengan raganya. It was not a right time to ask her something. My fault!


 

Tabik,
Mar'atul Azizah (riza) - Mahasiswi kelas Bunda Sayang IIP Regional Bekasi

#harike2
#tantangan15hari
#gameZona1
#BundaSayang
#KomunikasiProduktif
#PantaiBentangPetualang
#institutIBUprofesional
#PetualangBahagia

Komunikasi Produktif bersama Pasangan day#1

Selisih paham sering kali muncul bukan karena isi percakapan,
melainkan dari cara penyampaiannya.

Cung hayuk siapa yang LDR?

Bagaimana pola komunikasi dengan pasangan?

Bagaimana mengolah rasa dan emosi saat berjauhan?

Berat pastinya ya, gaesss...

Seperti yang dibilang Dilan, "Jangan rindu. BERAT. Kamu gak akan kuat. Biar aku saja!", haha...

3,5 tahun dipersatukan oleh ikatan suami-istri, ujian kami masih sama: dipisahkan jarak dan waktu. Katanya sih, jaman sekarang ini jarak dan waktu bukan masalah. Tapi ternyata masih menjadi tantangan yang luar biasa bagi saya dan suami. Terutama setahun terakhir, baru dibelai 2 kali, gaesss! LOL

Tantangan yang paling sering ditemui adalah hal remeh sebenarnya, yaitu KOMUNIKASI!

Hah? Kok ngobrol doang bisa jadi masalah sih?

Cara komunikasi saya yang blak-blakan dan suami yang sering berpikir (terlalu lama) sebelum mengemukakan pendapatnya menjadi latar belakang kenapa komunikasi jadi hal remeh yang melahirkan masalah. Duh lah, saya paling gak bisa tuh di-diem-in, tapi suami? Sering banget memilih diam untuk meredam emosinya menghadapi istrinya ini. haha...

Materi komunikasi produktif di kelas #bundasayang menjadi materi pertama yang sungguh menarik!

Saya evaluasi kembali, bahwa saya dan suami memang 2 individu berbeda. TERIMA saja itu dulu! Jelas, saya dan suami terlahir dari rahim yang berbeda, pola pengasuhan berbeda, juga 'lingkungan' tempat kami belajar bertumbuh berkembang sudah pasti berbeda. Apa yang suami alami, belum tentu saya alami. Jika ada kondisi yang mirip atau bahkan sama, dalam proses dan hasilnya pasti berbeda.

Ada banyak hal yang selama ini terlalu saya paksakan dan saya tuntut, bahkan sering kali saya menyalahkan kondisi yang ada. Ini yang sering membuat 'kapal' kami oleng. Saya sering merasa paling benar, dan akhirnya ketika saya menyadari sesuatu yang saya lakukan salah, suami merasa makin bersalah. LOL :-D 

Kemaren, saya masih tertawa dan menangis dalam satu waktu saat telpon bersama suami. Yaaa ngobrol langsung aja sering salah paham, apalagi cuma telpon atau video call yang kadang terkendala sinyal. Suami gak menjawab telpon, eh ternyata lagi tugas di gunung. Suami gak menjawab pesan, ternyata lagi hemat daya karena gak bawa charger. Dan lain-lain, dan sebagainya, dan sejenisnya...

Setelah tau prinsip komunikasi produktif, saya jadi lebih legowo. Secara sederhana saya berusaha memberikan jeda pada diri saya untuk menikmati segala bentuk emosi yang saya rasakan. 

Clear and Clarify 

Berbicara yang jelas. Tiap hari, kami biasanya melakukan video call, saat bangun tidur, saat suami sampai di kantor (menunggu jadwal absen dan apel pagi), terkadang di saat jam istirahat, juga saat malam hari. Nah, kalau sinyal udah jadi penghambat pas suara gak jelas, saya langsung memutus saluran video call dan menggantinya dengan telepon biasa. Hal ini bahkan yang juga sering dilakukan Arrayyan saat ayahnya tidak menjawab video call, "Ayah gak ada sinyal, telpon biasa aja, yuk!", pintanya :-D

Selain itu, klarifikasi menjadi sebuah hal yang harus saya lakukan, entah untuk mengklarifikasi kesepakatan bersama, atau mengklarifikasi hal yang tidak saya pahami dengan baik, agar tidak terjadi missed perception. Tadi siang kami tidak telpon atau video call karena suami sedang tugas di daerah yang minim sinyal dan tidak membawa charger, akhirnya saya hanya chat, "Ayyy, ada lowongan kerja yang bisa remote nih, boleh aku coba?", awalnya saya kirim informasi lowongan kerja karena kebetulan beberapa hari ini obrolan kami adalah tentang keinginan saya untuk kembali ke ranah publik. Agak lama ya mendapatkan jawabannya sampai akhirnya dijawab, "yang penting bisa jaga emosi sama Arra", nahloh abstract banget ya jawabannya. LOL. Saya klarifikasi, namun tak terjawab. Malam harinya, saya sedang fokus membersamai Arrayyan yang seharian sedang kurang fit dan mengabaikan HP. 

Masih "PR" banget nih buat besok. Pakai prinsip ke-2: Pilih Waktu yang Tepat!

Seperti apa ya? Nantikan kelanjutannya esok hari yaa ^^

Tabik,
Mar'atul Azizah (riza) - Mahasiswi kelas Bunda Sayang IIP Regional Bekasi

#harike1
#tantangan15hari
#gameZona1
#BundaSayang
#KomunikasiProduktif
#PantaiBentangPetualang
#institutIBUprofesional
#PetualangBahagia

Aliran Rasa - kelas prabunsay IIP

 4 minggu = 1 bulan

WOWWW!!! Tak terasa sudah menikmati 4 wahana selama sebulan di kelas pra-bunsay kampus kehidupan. Perkuliahan di Institut Ibu Profesional memang selalu membuat saya seperti menaiki roller-coaster. Dan ini baru langkah awal tapi deg-degan-nya berasa banget...

Alhamdulillaah.... di tengah proses membersamai Ibu yang masih menjalani pengobatan di RS, menemani Arrayyan bermain dan belajar, juga pacaran jarak jauh bersama suami tersayang, Allah kasih kesempatan untuk terus belajar dan bertualang bersama para Ibu Pembelajar yang sungguh sangat menginspirasi...

Bismillaah...
Belajar lagi menjadi versi terbaik diri sebagai seorang Riza, seorang istri, seorang ibu, semoga bisa terus berkarya dan bermanfaat bagi sekitar..


 

Tabik,
Mar'atul Azizah (@rizazizah) - mahasiswi kelas Bunsay IIP batch #6 regional Bekasi

#ibuprofesional
#kelasPRAbunsay
#AliranRasa

Riza: Ibu Pembelajar, Kebanggaan Keluarga! (sebuah refleksi bersama IIP)

"Perempuan tuh jangan jadi kucing dapur! Jangan cuma ada di ketiak suami!"

Adakah yang pernah mendengar statement serupa?

Entah sejak kapan kalimat tersebut selalu terngiang di telinga saya, sebuah nasihat mendalam dari ibu saya, menjadikan saya selalu berpikir bahwa PEREMPUAN HARUS MANDIRI! Namun, pemahaman agama di keluarga saya pun tidak membuat saya pongah, bahwa bagaimanapun seorang perempuan yang sudah menikah harus berbakti kepada suaminya. Pemahaman seperti ini menjadikan karakter saya sebagai pribadi yang cukup ambisius namun tetap logis dalam setiap langkah, tidak menjadikan saya langsung merasa puas ketika mencapai satu titik, namun juga tidak membuat saya sangat down ketika menghadapi kegagalan. Kegagalan membuat saya belajar dan terus berusaha memperbaiki agar mendapatkan apa yang saya inginkan. Saya pun tetap membuat alternatif impian. Misalnya saat lulus kuliah, saya ingin bekerja di perusahaan raksasa IT: g**gle. Namun, saya pun memiliki alternatif A, B, C, D, E, ... (banyak juga ya. LOL)

Saya tahu saya tidak ingin terus menjadi wanita karir. Ketika saatnya tiba, saat saya menikah, maka saya ingin sepenuhnya membaktikan diri pada suami dan keluarga. Pertanyaan besarnya: BISAKAH SAYA?

Di awal pernikahan saya, saya masih menjalani perkuliahan lanjutan (S2). Hingga Allah amanahi janin di rahim, saya berjanji untuk mendidiknya sepenuh hati, menjadi guru pertama dan utama. Waktu kelahiran pun semakin dekat, namun ada banyak sekali kegelisahan dan pertanyaan-pertanyaan memenuhi pikiran saya. Saya mulai stress. Mungkin ini juga yang menjadikan bayi saya tidak ingin cepat-cepat lahir. Namun saya beruntung memiliki suami yang selalu menenangkan. Bayi kami akhirnya lahir secara spontan di usia kehamilan 41w2d (setelah terancam akan diinduksi dan vakum. Ibuknya mengirim pesan cinta setulus hati agar bayi bekerja sama dengan baik. LOL). Masyaa Allaah...

Sebulan, 2 bulan, saya terus membaca dan menggali informasi tentang ilmu parenting. Saya mengalami tsunami informasi, saya juga mengalami post power syndrome. "Akankah saya terus-terusan di rumah?", pertanyaan ini terus membayangi pikiran saya yang sebelumnya sangat aktif berkegiatan dan berorganisasi di luar rumah.

Hingga akhirnya saya bertemu dengan Ibu Profesional. Bismillaah, jauh-jauh hari sebelum pendaftaran dimulai saya meminta ijin kepada suami untuk mendaftarkan diri sebagai member di Institut Ibu Profesional. Saat itu saya tahu bahwa kuota terbatas, saya yang ambisius ini tentu saja merasa tertantang. Alhamdulillaah atas ijin suami saya berhasil mendaftar di tengah sinyal yang tidak stabil saat di kereta api ketika perjalanan kembali dari mudik :-) So happy...

Di awal perjalanan matrikulasi, seperti yang telah saya ceritakan disini, bahwa terdapat kesamaan nilai dan prinsip hidup saya dan Institut Ibu Profesional, terutama menjadi individu yang cinta belajar. Ya, saya adalah Ibu Pembelajar!

Saya ingat pesan Ibu Septi dan Pak Dodik,

"bersungguh-sungguhlah kamu di dalam rumah, maka kamu akan keluar dengan kesungguhan itu"

kemudian disandingkan dengan pepatan Arab,

"Man jadda wajada ~ Siapa yang bersungguh-sungguh maka akan mendapat hasil ~ There is a will, there is a way!"

Landasan berpikir spiritual pun menyambung apa yang saya jalani hari ini, menjadikan tiap nafas dan apa yang saya baktikan pada keluarga sebagai sebuah ibadah untuk mendapatkan ridha-Nya.

“ Apakah kamu mengira kamu akan masuk surga, padahal belum nyata bagi Allah orang-orang yang bersungguh-sunggug diantara kamu dean belum nyata orang-orang yang sabar ( Qs. Ali Imran : 142)

Sumber Artikel : Siapa Yang Sungguh-Sungguh, Ia Akan Meraih Cita-cita https://www.rumahquran.info/?p=2150

“Apakah kamu mengira kamu akan masuk surga, padahal belum nyata bagi Allah orang-orang yang bersungguh-sunggug diantara kamu dean belum nyata orang-orang yang sabar".
(Qs. Ali Imran : 142)

Saya juga teringat nilai-nilai yang ditanamkan line manager saya saat bekerja dulu: Learning, Practicing (hands on project), then Sharing (to others). Beliau memberikan banyak sekali pelatihan-pelatihan teori kepada tim sebelum memulai sebuah proyek, walau terkadang kami harus learning by doing dengan membaca teori dari e-book yang memang disediakan oleh HQ. Setelah proyek selesai, maka diadakanlah knowledge sharing, katanya biar ilmunya lebih nancep. Sharing ini bersifat seperti pengulangan, karena ada kalanya saat di proyek terdapat tantangan dan tidak semua yang ada di teori itu sukses dilakukan, maka sharing ini juga sebagai pengingat bagi diri sendiri juga dokumentasi jika suatu hari ada rekan kita mengalami hal serupa di proyek lainnya.

Kesamaan Nilai, Kesamaan Prinsip

Ada terdapat kesamaan yang akhirnya menguatkan saya bertahan dan berjuang di Institut Ibu Profesional. Selain saya memang cinta belajar, seperti halnya terbaca di tagline blog saya ini:
hidup untuk saling mengisi, melengkapi, memahami, dan menghargai...
Saya senang berbagi apa yang saya pelajari, hal ini karena saya yakini bahwa berbagi itu tidak menjadikan apa yang kita miliki berkurang, namun menguatkan dan menambahnya. Ingat prinsip rejeki. Demikian pula dengan berbagi ilmu, dan semoga ini menjadi jariyah yang dapat terus mengalir ketika saya sudah tidak lagi di dunia ini.
 
Hidup untuk saling mengisi dan melengkapi, karena manusia sebagai makhluk sosial. Berbagi ilmu disinilah perannya bukan untuk menggurui, namun mengisi dan melengkapi. Namun, dalam berbagi tersebut kita pun tidak bisa men-judge karena kita lebih tahu, maka prinsip memahami dan menghargai inilah yang dibutuhkan.

Maka, hari ini saya siap untuk kembali meng-upgrade diri bersama Institut Ibu Profesional, sebagai seorang Ibu Pembelajar Kebanggaan Keluarga! 
Bismillaah... 
 
#ibuprofesional
#kelasPRAbunsay
#diving

oleh : Mar'atul Azizah (@rizazizah) - mahasiswi kelas Bunda Sayang batch #6 regional Bekasi

“ Apakah kamu mengira kamu akan masuk surga, padahal belum nyata bagi Allah orang-orang yang bersungguh-sunggug diantara kamu dean belum nyata orang-orang yang sabar ( Qs. Ali Imran : 142)

Sumber Artikel : Siapa Yang Sungguh-Sungguh, Ia Akan Meraih Cita-cita https://www.rumahquran.info/?p=2150