Pages

Perjuangan Menuju KI3 Malang

“Untuk yang berangkat dari alun-alun besok menghubungi Yessy, ya gengs”, demikianlah jawaban atas serangkaian pesan tanya untuk memastikan para Relawan yang akan berangkat bersama menuju kelas inspirasi yang ada di group chatting terkini, whatsapp. Ialah Shinta yang menjadi koordinator fasilitator di rombel (rombongan belajar) saya yang awalnya juga sebagai PIC untuk para Relawan yang berkumpul di Alun-alun kota, menunjuk Yessy untuk mengumpulkan para Relawan di titik keberangkatan Alun-Alun Kota Malang.
penyerahan bingkisan buku untuk MI Miftahul Ulum
photograph: Aan



Bagi saya, Malang memiliki banyak kenangan. Oleh karena itulah saya mendaftarkan diri sebagai relawan pada Kelas Inspirasi (KI) kali ini yang diselenggarakan untuk ke-3 kalinya di seluruh kota/kabupaten Malang Raya. Saya terlambat mendaftar karena ternyata pendaftaran relawan telah ditutup. Namun tidak menyurutkan semangat saya untuk bergabung. “Kalau masih membuka relawan untuk dokumentator, mohon infonya ya. Siapa tahu masih dibutuhkan”, saya masih berusaha menawarkan kemampuan yang saya miliki pada koordinator panitia pelaksanaan KI-3 Malang, Amanah Awaliyah Muhammadiyah (Amma). Dan akhirnya panitia mengabulkan keinginan saya. Ya, ada sesuatu yang membuat saya sangat bersemangat dan antusias untuk bergabung dengan KI-3 Malang.

21 November 2015 menjadi hari yang saya tunggu sepanjang minggu. Inilah hari inspirasi kegiatan KI-3 Malang dilaksanakan. Saya baru tiba di kota Malang sekitar pukul 02.30 WIB setelah sebelumnya mengalami sedikit drama klasik keterlambatan pesawat dari Jakarta menuju Surabaya. Maklum saja, saya masih menjabat sebagai tukang insinyur di salah satu perusahaan telekomunikasi di ibu kota yang katanya lebih kejam dari ibu tiri :-)

05.30 seharusnya menjadi titik dimana seluruh relawan yang berkumpul di ALun-Alun kota Malang berangkat menuju lokasi yang telah ditentukan. Rombel saya adalah rombel 58 di MI NU Miftahul Ulum, Turen, Malang Selatan. Tapi drama klasik pun kembali terjadi. Terutama saya yang tidak begitu mengenal seluk beluk kota Malang walaupun diantar teman. Hehee…

Sesampainya di Alun-alun, saya menghubungi para relawan di group chat maupun menelepon satu per satu kontak di group tersebut. Saya belum pernah berkenalan secara langsung dengan para anggota kelompok ini, bahkan bisa jadi saya lupa asal dan profesi para relawan yang sebelumnya sudah saling berkenalan secara informal di group chat tersebut. Maklum, kemampuan menghafal saya memang sangat terbatas. Usaha saya menghubungi anggota kelompok nyaris membuat saya kesal terlebih pada diri sendiri, karena memang saya yang salah, terlambat dari jadwal yang telah disepakati. Sejujurnya inilah yang memang sulit diandalkan dari diri saya :D Setelah usaha kesekian kalinya, Mbak Yunari berhasil saya hubungi dan menyampaikan bahwa posisinya sudah mengikuti rombongan menuju daerah Gadang. Jadilah pada kesimpulan saya terlambat dan ditinggalkan oleh rombongan yang sudah “move on” sekitar 5-10 menit sebelum saya berhasil menghubungi salah satu relawan. Saya pun meminta bantuan Mbak Yunari sebagai “navigator”, melalui media yang kami kenal sebagai “share location” di teknologi per-chatting-an masa kini, karena ternyata Mbak Yunari dan rekannya juga tidak mengetahui daerah Malang dan baru tiba juga dini hari itu dari Yogyakarta. :-)

Alhasil, dengan kemampuan membaca peta (bukan menghafal daerah) yang bisa diandalkan, ditambah sinyal yang cukup mumpuni, dibumbui teknologi dari mbah google yang sangat berkualitas, dan juga kenakalan dalam berkendara motor sembari memegang ponsel, dibantu oleh “share location” dari Mbak Yunari, walaupun tetap harus berhenti beberapa kali untuk bertanya ‘dimana Pasar Turen?’ kepada orang yang ditemui di jalan, saya kahirnya berhasil menemukan MI NU Miftahul Ulum. Huuuffftt… Say hamdalah! Alhamdulillaah…

MI NU Miftahul Ulum, Turen, Malang Selatan
Photo taken by me!

Setibanya di lokasi, rekan-rekan sudah mulai berkenalan di lapangan upacara. Saya pun menuntun motor yang saya bawa menuju ‘area parker sekehendak hati’ di sekolah tersebut. Di belakang para murid – walaupun tetap menjadi sedikit perhatian beberapa anak – saya mempersiapkan peralatan perang, Si Hitam kesayangan (FYI, saya bukan pecinta warna hitam karena kulit saya sudah berwarna gelap, tapi hamper seluruh barang penting dalam hidup saya berwarna hitam :-D).

Banyak inspirasi dan pelajaran berharga yang saya dapatkan. Terutama dari orang-orang yang baru saya kenal di hari itu. Bagi saya, inspirasi itu dating dari siapa saja. Bukan hanya “sehari mengajar, selamanya menginspirasi”, tetapi juga “sehari bersama, selamanya terinspirasi”.

Hari yang sangat melelahkan, namun tetap menyenangkan, dan malamnya saya tertidur dengan sangat pulas padahal ada tugas fotografi dan essay yang harus dikerjakan, hingga akhirnya setelah sholat Subuh baru saya kerjakan ;-)

Tunggu kelanjutan cerita saya selanjutnya disini ya.

Salam,

Mengisi kelas kosong,
Photograph : Isti Sukardi

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

silahkan buat curcol Anda tentang postingan ini :)

terima kasih atas komentarnya
riza