Pages

Aliran Rasa - kelas prabunsay IIP

 4 minggu = 1 bulan

WOWWW!!! Tak terasa sudah menikmati 4 wahana selama sebulan di kelas pra-bunsay kampus kehidupan. Perkuliahan di Institut Ibu Profesional memang selalu membuat saya seperti menaiki roller-coaster. Dan ini baru langkah awal tapi deg-degan-nya berasa banget...

Alhamdulillaah.... di tengah proses membersamai Ibu yang masih menjalani pengobatan di RS, menemani Arrayyan bermain dan belajar, juga pacaran jarak jauh bersama suami tersayang, Allah kasih kesempatan untuk terus belajar dan bertualang bersama para Ibu Pembelajar yang sungguh sangat menginspirasi...

Bismillaah...
Belajar lagi menjadi versi terbaik diri sebagai seorang Riza, seorang istri, seorang ibu, semoga bisa terus berkarya dan bermanfaat bagi sekitar..


 

Tabik,
Mar'atul Azizah (@rizazizah) - mahasiswi kelas Bunsay IIP batch #6 regional Bekasi

#ibuprofesional
#kelasPRAbunsay
#AliranRasa

Riza: Ibu Pembelajar, Kebanggaan Keluarga! (sebuah refleksi bersama IIP)

"Perempuan tuh jangan jadi kucing dapur! Jangan cuma ada di ketiak suami!"

Adakah yang pernah mendengar statement serupa?

Entah sejak kapan kalimat tersebut selalu terngiang di telinga saya, sebuah nasihat mendalam dari ibu saya, menjadikan saya selalu berpikir bahwa PEREMPUAN HARUS MANDIRI! Namun, pemahaman agama di keluarga saya pun tidak membuat saya pongah, bahwa bagaimanapun seorang perempuan yang sudah menikah harus berbakti kepada suaminya. Pemahaman seperti ini menjadikan karakter saya sebagai pribadi yang cukup ambisius namun tetap logis dalam setiap langkah, tidak menjadikan saya langsung merasa puas ketika mencapai satu titik, namun juga tidak membuat saya sangat down ketika menghadapi kegagalan. Kegagalan membuat saya belajar dan terus berusaha memperbaiki agar mendapatkan apa yang saya inginkan. Saya pun tetap membuat alternatif impian. Misalnya saat lulus kuliah, saya ingin bekerja di perusahaan raksasa IT: g**gle. Namun, saya pun memiliki alternatif A, B, C, D, E, ... (banyak juga ya. LOL)

Saya tahu saya tidak ingin terus menjadi wanita karir. Ketika saatnya tiba, saat saya menikah, maka saya ingin sepenuhnya membaktikan diri pada suami dan keluarga. Pertanyaan besarnya: BISAKAH SAYA?

Di awal pernikahan saya, saya masih menjalani perkuliahan lanjutan (S2). Hingga Allah amanahi janin di rahim, saya berjanji untuk mendidiknya sepenuh hati, menjadi guru pertama dan utama. Waktu kelahiran pun semakin dekat, namun ada banyak sekali kegelisahan dan pertanyaan-pertanyaan memenuhi pikiran saya. Saya mulai stress. Mungkin ini juga yang menjadikan bayi saya tidak ingin cepat-cepat lahir. Namun saya beruntung memiliki suami yang selalu menenangkan. Bayi kami akhirnya lahir secara spontan di usia kehamilan 41w2d (setelah terancam akan diinduksi dan vakum. Ibuknya mengirim pesan cinta setulus hati agar bayi bekerja sama dengan baik. LOL). Masyaa Allaah...

Sebulan, 2 bulan, saya terus membaca dan menggali informasi tentang ilmu parenting. Saya mengalami tsunami informasi, saya juga mengalami post power syndrome. "Akankah saya terus-terusan di rumah?", pertanyaan ini terus membayangi pikiran saya yang sebelumnya sangat aktif berkegiatan dan berorganisasi di luar rumah.

Hingga akhirnya saya bertemu dengan Ibu Profesional. Bismillaah, jauh-jauh hari sebelum pendaftaran dimulai saya meminta ijin kepada suami untuk mendaftarkan diri sebagai member di Institut Ibu Profesional. Saat itu saya tahu bahwa kuota terbatas, saya yang ambisius ini tentu saja merasa tertantang. Alhamdulillaah atas ijin suami saya berhasil mendaftar di tengah sinyal yang tidak stabil saat di kereta api ketika perjalanan kembali dari mudik :-) So happy...

Di awal perjalanan matrikulasi, seperti yang telah saya ceritakan disini, bahwa terdapat kesamaan nilai dan prinsip hidup saya dan Institut Ibu Profesional, terutama menjadi individu yang cinta belajar. Ya, saya adalah Ibu Pembelajar!

Saya ingat pesan Ibu Septi dan Pak Dodik,

"bersungguh-sungguhlah kamu di dalam rumah, maka kamu akan keluar dengan kesungguhan itu"

kemudian disandingkan dengan pepatan Arab,

"Man jadda wajada ~ Siapa yang bersungguh-sungguh maka akan mendapat hasil ~ There is a will, there is a way!"

Landasan berpikir spiritual pun menyambung apa yang saya jalani hari ini, menjadikan tiap nafas dan apa yang saya baktikan pada keluarga sebagai sebuah ibadah untuk mendapatkan ridha-Nya.

“ Apakah kamu mengira kamu akan masuk surga, padahal belum nyata bagi Allah orang-orang yang bersungguh-sunggug diantara kamu dean belum nyata orang-orang yang sabar ( Qs. Ali Imran : 142)

Sumber Artikel : Siapa Yang Sungguh-Sungguh, Ia Akan Meraih Cita-cita https://www.rumahquran.info/?p=2150

“Apakah kamu mengira kamu akan masuk surga, padahal belum nyata bagi Allah orang-orang yang bersungguh-sunggug diantara kamu dean belum nyata orang-orang yang sabar".
(Qs. Ali Imran : 142)

Saya juga teringat nilai-nilai yang ditanamkan line manager saya saat bekerja dulu: Learning, Practicing (hands on project), then Sharing (to others). Beliau memberikan banyak sekali pelatihan-pelatihan teori kepada tim sebelum memulai sebuah proyek, walau terkadang kami harus learning by doing dengan membaca teori dari e-book yang memang disediakan oleh HQ. Setelah proyek selesai, maka diadakanlah knowledge sharing, katanya biar ilmunya lebih nancep. Sharing ini bersifat seperti pengulangan, karena ada kalanya saat di proyek terdapat tantangan dan tidak semua yang ada di teori itu sukses dilakukan, maka sharing ini juga sebagai pengingat bagi diri sendiri juga dokumentasi jika suatu hari ada rekan kita mengalami hal serupa di proyek lainnya.

Kesamaan Nilai, Kesamaan Prinsip

Ada terdapat kesamaan yang akhirnya menguatkan saya bertahan dan berjuang di Institut Ibu Profesional. Selain saya memang cinta belajar, seperti halnya terbaca di tagline blog saya ini:
hidup untuk saling mengisi, melengkapi, memahami, dan menghargai...
Saya senang berbagi apa yang saya pelajari, hal ini karena saya yakini bahwa berbagi itu tidak menjadikan apa yang kita miliki berkurang, namun menguatkan dan menambahnya. Ingat prinsip rejeki. Demikian pula dengan berbagi ilmu, dan semoga ini menjadi jariyah yang dapat terus mengalir ketika saya sudah tidak lagi di dunia ini.
 
Hidup untuk saling mengisi dan melengkapi, karena manusia sebagai makhluk sosial. Berbagi ilmu disinilah perannya bukan untuk menggurui, namun mengisi dan melengkapi. Namun, dalam berbagi tersebut kita pun tidak bisa men-judge karena kita lebih tahu, maka prinsip memahami dan menghargai inilah yang dibutuhkan.

Maka, hari ini saya siap untuk kembali meng-upgrade diri bersama Institut Ibu Profesional, sebagai seorang Ibu Pembelajar Kebanggaan Keluarga! 
Bismillaah... 
 
#ibuprofesional
#kelasPRAbunsay
#diving

oleh : Mar'atul Azizah (@rizazizah) - mahasiswi kelas Bunda Sayang batch #6 regional Bekasi

“ Apakah kamu mengira kamu akan masuk surga, padahal belum nyata bagi Allah orang-orang yang bersungguh-sunggug diantara kamu dean belum nyata orang-orang yang sabar ( Qs. Ali Imran : 142)

Sumber Artikel : Siapa Yang Sungguh-Sungguh, Ia Akan Meraih Cita-cita https://www.rumahquran.info/?p=2150

Core Value & Karakter Moral Ibu Profesional

Lebih dari setahun lalu saat bergabung menjadi mahasiswi Ibu Profesional di kelas matrikulasi, saya merasa memiliki values yang sama di Institut Kehidupan ini. Terdapat 5B core values yang selalu saya ingat betul dan menjadi catatan besar di buku kehidupan saya.

  1. semangat BELAJAR
  2. terus BERKEMBANG
  3. aktif BERKARYA
  4. selalu BERBAGI
  5. selalu BERDAMPAK

Seorang perempuan, baik itu sebagai individu, atau peran lainnya dalam keluarga, sebagai anak, sebagai istri, bahkan sebagai seorang ibu, harus memiliki semangat belajar yang tinggi. Karena sesungguhnya hidup ini penuh tantangan, dan kita dituntut untuk mencari jalan yang baik dengan terus belajar dari berbagai sumber. Tentu saja nilai utama ini seperti yang dibahas di awal matrikulasi harus disertai dengan adab belajar yang baik, agar ilmu tersebut berkah dan bermanfaat, kemudian membuat kita terus berkembang menjadi pribadi yang lebih baik setiap harinya. 

Banyak stigma bahwa ketika menikah, terlebih setelah menjadi ibu, perempuan seakan terkurung dalam tempurung. Padahal, ketika menikah seharusnya bisa meningkatkan potensi diri, tetap aktif berkarya, kemudian selalu berbagi dan selalu berdampak untuk sekitar.

Menjadi Ibu Pembelajar perlu memiliki alasan kuat (strong why). Ketika semangat sedang turun, maka kita memiliki alasan kuat untuk kembali berjalan menuju tujuan yang kita ingin capai. Inilah alasan saya akhirnya mengikuti perkuliahan Bunda Sayang di Institut Ibu Profesional. 

Apa yang ingin saya cari?

Seperti yang telah saya tuliskan tentang makna ibu pofesional disini, saya ingin menjadi guru dan sahabat bagi anak-anak saya, juga tentu saja menjadi partner yang baik bagi suami saya sebagai guru dan sahabat untuk anak-anak kami. Lebih jauh dalam membangun biduk rumah tangga, saya ingin bisa menjadi manajer keluarga yang handal.

Di peta pembelajaran yang telah saya buat sebelumnya, ada beberapa hal yang ingin saya tingkatkan, yaitu komunikasi produktif, cerdas finansial, mengamati gaya belajar anak, hingga membuat family project.

Prinsip dan Komitmen Berkomunitas (CoC IIP)


Arti komunitas di dalam KBBI adalah (n) kelompok organisme (orang dan sebagainya) yang hidup dan saling berinteraksi di dalam daerah tertentu; masyarakat; paguyuban.

ilustrasi komunitas, by @rizaziah
Manusia sebagai makhluk sosial, yang pasti berinteraksi dengan sesamanya. Iya donk, secara langsung atau tidak, kita pasti membutuhkan orang lain dalam keseharian kita, bahkan dalam mencapai suatu tujuan yang kita inginkan. Misalnya saja ingin menjadi seorang dokter, kita pasti harus sekolah dulu, kita butuh guru/dosen, juga teman sejawat untuk berdiskusi, serta pastinya seorang dokter akan 'berguna' jika ia memiliki pasien.

Interaksi sangat erat kaitannya dalam hubungan antar individu. Tiap individu unik, memiliki latar belakang, pola pikir, serta berbagai karakter yang unik. Maka, dibutuhkan suatu hal yang bisa mengatur hubungan antar individu ini. Apalagi dalam komunitas yang besar, dengan anggota yang heterogen, tiap kepala dengan latar belakang serta pola pikir berbeda, perbedaan pendapat atau bahkan gesekan bisa dipastikan dapat terjadi, bahkan tantangan demi tantangan tak mungkin terelakkan.

Seperti diilustrasikan pada gambar, komunitas itu terdiri dari tiap individu dengan berbagai 'warna'-nya, dan dikumpulkan dalam 'satu lingkaran'. Yang pasti, komunitas itu biasanya memiliki VISI dan MISI yang menyatukan anggotanya. Sehingga diperlukanlah peraturan, tata tertib, yang dipahami dan disepakati bersama sehingga menjadi sebuah komitmen.

Demikian pula dengan Institut Ibu Profesional (IIP) sebagai sebuah komunitas belajar para Ibu dan calon Ibu yang di dalamnya terdapat beragam latar belakang, profesi, serta aneka heterogenitas. Maka lahirlah Code of Conduct, yang biasa disingkat CoC, sebagai pedoman berperilaku bermartabat seorang Ibu. CoC ini pun memiliki tujuan sebagai (1) Pedoman (tujuan normatif), yakni sebagai 'kompas' dalam bersikap dan berperilaku di komunitas; (2) Preventif, untuk mencegah terjadinya pelanggaran-pelanggaran oleh anggotanya; dan (3) tujuan Kuratif, sebagai tujuan untuk menyelesaikan tantangan yang muncul akibat adanya gesekan antar individu maupun benturan berbagai kepentingan di dalam IIP.

Ada 5 hal garis besar yang diatur dalam berkomunitas di IIP, semua hal dibolehkan, kecuali:
1.  Kritik Pemerintah
2. Ghibah & Fitnah
3. Berbicara SARAT (Suku, Agama, Ras, Anggota Tubuh)
4. Bicara khilafiah
5.  Konflik Kepentingan

Tentu saja hal batasan ini dibuat agar para anggota tetap nyaman dalam berkomunitas.


Terkait prinsip berkomunitas ini saya ingat sekali saat beberapa waktu lalu diwawancara untuk sebuah yayasan yang bergerak di bidang edukasi. Karena kebetulan saya aktif mengedukasi tentang menggendong bayi yang aman dan nyaman, dan saya juga senang sharing pengalaman, maka saya diberi kesempatan untuk bergabung. Dalam sesi wawancara pengurus tersebut, salah satunya ditanyakan, "bagaimana sikap saya dalam menghadapi adanya peng-kotak-kotak-an di komunitas menggendong?"

Jawaban saya sederhana, bahwa dalam mengedukasi kita harus berpikiran terbuka dan merangkul setiap individu ataupun kelompok. 

Di komunitas menggendong, sering sekali terjadi khilafiah. Ada yang pro dengan NBC (Narrow Based Carrier; gendongan berpanel sempit), 'kaum' ini menganggap bahwa NBC yang biasanya sangat mudah ditemukan di pasaran dan dijadikan kado bagi orang yang baru saja lahiran masih bisa ditolerir dengan syarat A, B, C, dst. Tapi ada pula yang saklek meng-haram-kan penggunaan NBC karena alasan 1, 2, 3, dst...
Bagi saya yang seorang Babywearing Consultant, maka sudah seharusnya meluruskan apa yang saya ketahui, dan hanya sebatas menghimbau, karena keputusan akhir ada di tangan penggendong, khususnya orang tua.


Saya ingat senior saya dulu pernah ada yang bilang begini,
Lo asik, Gue santai...
Lo usik, Gue bantai!!!

Dalam hal prinsip, terutama yang berkaitan dengan value diri atau keluarga, kita wajib 'keras kepala' mempertahankan prinsip tersebut. Apalagi berkaitan dengan Tauhid.
Namun, dalam berkomunitas, adanya komitmen ini harus membuat kita lebih fleksibel, gak perlu ngotot, tapi tetap saling menghormati, merangkul, menggandeng, mengapresiasi, banyak memberikan peran, sehingga kita bisa lebih berpikiran terbuka dan menerima adanya perbedaan.

#ibuprofesional
#kelasPRAbunsay
#WahanaSurfing

oleh : Mar'atul Azizah (@rizazizah) - mahasiswi kelas Bunda Sayang batch #6 regional Bekasi

Makna Ibu Profesional

33 bulan yang lalu ketika saya melahirkan seorang anak, ternyata saya pun terlahir kembali menjadi sosok baru. Menjadi seorang Ibu, mengajarkan banyak hal, perjalanan yang pastinya sangat panjang, penuh liku dan aral. Namun, seperti halnya sebuah petualangan, hal terpenting adalah menjadikan setiap momen berarti, dan menjalaninya dengan bahagia.

Saat ini, saya kembali menjadi mahasiswi di kelas Bunda Sayang, Institut Ibu Profesional, berpetualang bersama 750 Ibu dan calon Ibu di Pulau Cahaya. Setahun kedepan akan menjadi petualangan luar biasa, membersamai tumbuh kembang anak, dan juga memupuk cinta di keluarga kami.

Sudah lama rasanya euforia ini tidak saya rasakan. Ada rasa cemas, terlebih kondisi saya yang saat ini sedang menjalani LDR dengan suami karena harus merawat Ibu sepeninggal Bapak saya. Tantangan yang luar biasa juga saya rasakan ketika harus membagi waktu untuk membersamai Arrayyan, buah hati saya yang senang bermain.

Sejatinya, anak-anak suka BERMAIN.
Tetapi MENDIDIK mereka TIDAK BISA MAIN-MAIN...


Maka, disinilah saya sekarang, untuk terus belajar....
Makna Ibu Profesional

Ibu Profesional bagi saya adalah sosok idaman bagi seorang perempuan. "Kebanggaan Keluarga" menjadi label yang sangat erat kaitannya. Dialah sosok yang disayang keluarga (khususnya suami dan anak), cekatan dalam segala aktivitas yang dilakoninya, produktif berkarya untuk seluas-luasnya manfaat yang dapat dibagikan, dan tentu saja menjadi sebaik-baiknya perhiasan dunia: wanita shalihah.

Setelah ngobrol ngalur ngidul, pas banget 4 hari ini suami lagi pulang, jadi punya banyak waktu untuk membahas nyaris tuntas tentang makna ibu profesional versi terbaik saya, dan harapan besar suami.

Pengejawantahan "IBU PROFESIONAL" versi terbaik saya adalah seorang wanita, dengan segala potensi yang dimiliki berkomitmen dan konsisten menjadi "MANAGER KELUARGA HANDAL".

peta petualangan
Di ilmu manajemen, terdapat 4 konsentrasi, yaitu Manajemen Operasional, Manajemen Keuangan, Manajemen Manusia (Human Resource), dan Manajemen Pemasaran.
Petualangan keluarga kami sangat masih panjang. Terutama perjalanan saya menjadi manager keluarga handal. Melalui proses pembelajaran berkelanjutan, di kelas Bunda Sayang, tiap langkah harus diperhatikan secara detil. Duri di pasir pantai itu biasa, bisa saja kita terluka jika tidak berhati-hati, tapi itulah yang akan menjadi cerita.

Langkah pertama yang harus saya lakukan adalah melakukan komunikasi produktif, sebagai langkah perencanaan manajemen operasional.

Selanjutnya, saya juga harus mempelajari secara sungguh-sungguh tentang family financial planning, sebagai bagian dari cerdas finansial menuju kebebasan finansial keluarga tahun 2040 insyaa Allah. Hal ini tentu saja merupakan kehandalan yang harus dimiliki seorang manajer keuangan keluarga.

Terkait human resources, saya pun harus memahami gaya belajar anak. Saya meyakini tiap anak itu unik dan hebat, setiap anak memiliki kecerdasan yang bisa dioptimalkan dengan baik, kitalah orang tua yang harus terus belajar dan memahaminya.

Manajemen pemasaran bagi keluarga saya pahami sebagai perencanaan menuju keluarga yang dapat diingat oleh orang lain. Bukankah manusia mati hanya meninggalkan nama? Nama seperti apa itulah yang harus kita buat 'branding'-nya. Bapak saya (rahimahullah) pernah berpesan, "Jangan pernah merasa baik, tapi teruslah berbuat baik!"
Maka, disinilah peran family project yang akan turut mensukseskan petualangan kami menjadi 'super team' dalam memaknai setiap proses di kehidupan ini.

#ibuprofesional
#kelasPRAbunsay
#istanapasir

oleh : Mar'atul Azizah (@rizazizah) - mahasiswi kelas Bunda Sayang batch #6 regional Bekasi